Tutor



Title : Tutor
Author : NendenNurpujiHasanah @Nenden_Hasanah
Cast : Luhan (EXO), Choi Haneul (OC) ,
Genre : Romantic, hurt
Rate : T (PG-16)
Length : Oneshoot , longshoot
Disclaimer : story is mine ^^

Nenden’s Bacotan :
Hai, saya kembali, setelah setahun mati ide. Mati idenya kelamaan. Mohon maaaaaaf *bow*
Nggak banyak bacot deh, langsung baca ajaa :D

BGM
-          Angel (EXO-M)
-          Don’t Go (EXO-M)
-          Lucky (EXO-M)

Happy Reading






Seorang namja berambut cokelat kemerahan berjalan ditengah-tengah orang yang berlalu lalang di bandara pagi itu. Namja itu mengenakan long coat hitam dan kacamata hitam, sebuah smartphone tertempel ditelinga kanannya, ia menarik kopernya sambil sesekali menengok kanan dan kiri mencari orang yang akan menjemputnya.

“Halo, ge, kau sudah sampai?”

“Ne, aku baru saja lewat di pintu kedatangan, dimana kau?”

“Ah, aku dijalan, sebentar lagi sampai. Tunggulah sebentar, ge”

“Ok, aku tunggu di starbuks dekat sini”

“Ok.”

Namja itu melepas kacamata hitamnya dan memasukannya ke saku coatnya. Kembali melangkahkan kakinya, mata rusanya mencari-cari letak kedai kopi yang terkenal itu, duduk di kursi dekat pintu agar orang yang menjemputnya akan mudah menemukannya.

.
.
.
.
.
.

“Appa, Umma! Aku berangkat dulu, anneyong..!!”

Seorang gadis berseragam SMA menuruni tangga dengan tergesa, teriakan sang Umma yang menyuruhnya sarapan hanya ditanggapinya dengan lambaian tangan. Oh my, jam masuk kelas adalah jam 07.30 dan sekarang sudah jam 07.15, tinggal lima belas menit lagi menuju bel masuk, kesiangan sudah jelas. Bayangan satpam sekolah dengan wajah mengerikan di depan pintu gerbang sudah terlintas di pikiran gadis itu. Dengan cepat ia menyuruh sopirnya melajukan mobilnya kencang. Berdo’a dalam hati agar sang satpam sekolahnya masih mau membukakan gerbang untuknya.
.
.
.
.
.
“Haah.. untung kau masih diberi kesempatan masuk, Ha Neul-ah, kalau saja tidak, kau harus pulang ke rumahmu lagi.. tapi.. tumben sekali satpam itu mau membukakan gerbang, biasanya dia tak mau membukakan gerbang walau hanya telat satu menit..” seorang gadis berperawakan mungil dengan rambut pendeknya berkata sambil memperhatikan gadis didepannya yang sedang merapikan seragamnya yang sedikit berantakan karena ia berlari dari gerbang sampai ke ruang kelasnya.

“Hahaha.. mungkin karena sebelumnya aku belum pernah terlambat Eun Ah-ya.. jadi satpam ajusshi baik padaku” jawab Haneul sekenanya sambil menyisir rambutnya dengan jari.

Satu keberuntungan lagi buatnya karena pelajaran pertama saat itu hanya diberikan tagihan tugas dan sang guru berhalangan hadir.

“Aish.. lalu apa yang membuat siswa-teladan-yang-tak-pernah-telat sepertimu sekarang datang kesiangan begitu eoh?” tanya Eun Ah.

“Aku terlambat bangun Eun Ah-ya..”

“Ck.. tumben..”

“Hehehe... “

“Oh ya.. hari ini pengumuman nilai ujian bahasa China minggu lalu... dan kau tahu sendiri kita semua kesulitan sekali.. aku tidak yakin nilaiku naik di pelajaran ini..” Eun Ah menyandarkan kepalanya di lipatan tagannya di meja.

“Dan katanya jika nilainya dibawah rata-rata kita harus mengulang ujian.. huwee aku tidak mauu...” ucap Eun Ah dramatis.

“Ck.. kau sih.. makannya jangan sering-sering berduaan dengan pacar mu si Baek Baek itu... nanti jadi malas belajar kan.” Ucap Ha Neul terkekeh.

“Yah... itu tak ada pengaruhnya.. memang kau sendiri percaya diri dengan nilaimu huh?” Sungut Eun Ah.

“Jelas saja ada.. kalau kau sering pergi berdua, otomatis waktumu berkurang untuk belajar.. kalau aku sih cukup pe de dengan nilaiku..” jawab Ha Neul.

“Ah.. bilang saja kau iri karena tidak punya pacar..” Ucap Eun Ah sedikit berbisik namun masih bisa terdengar oleh Ha Neul.

PLETAK!

“YA! Kenapa kau menjitakku!!” Eun Ah bangkit seraya mengusap keningnya yang menjadi landasan tangan Ha Neul.

“Enak saja! Aku tidak seperti itu..!!”

Eun Ah hanya mengabaikan ucapan sahabatnya itu. Ia kembali menyandarkan kepalanya di tangannya.

Sementara Ha Neul masih sedikit merapikan rambut sebahuya. Sebenarnya ia merasa tidak percaya diri juga dengan nilainya, mengingat akhir-akhir ini nilainya menurun dan tak tahu apa penyebabnya. Mungkin ia merasa jenuh?

Dan mood nya juga menurun karena Eun Ah membicarakan soal pacar.. sebenarnya ia juga sedikit iri dengan sahabatnya itu. Ha Neul menghela nafas dan segera mengambil buku tugasnya dan mengerjakan tagihannya.

Choi Ha Neul, putri keluarga Choi yang terkenal dan sudah punya nama di bidang bisnis, perusahaanya sudah memiliki cabang dimana-mana, siswa tingkat akhir sebuah sekolah menengah atas ternama di Seoul, Ha Neul tinggal bersama orang tuanya, yang meskipun sibuk mereka selalu menyempatkan waktunya untuh Ha Neul, ia punya seorang oppa, namun sang oppa sudah menikah dan tinggal bersama keluarganya di rumahnya sendiri.

.
.
.
.
.
Ha Neul baru saja bangun ketika Umma memanggilnya untu segera turun. Ia buru-buru ke kamar mandi dan cuci muka serta gosok gigi. Ia mengganti bajunya santai, tshirt biru laut dan jeans selutut yang nyaman, ini hari minggu dan memang waktunya beristirahat sepuasnya di rumah.

Ha Neul segera turun dan mendapati umma dan appanya mengobrol dengan seorang namja di ruang tamu, ia tak tahu siapa namja itu.

“Ah, chagi kemarilah..” Umma megajak Ha Neul duduk disebelahnya sementara sang Appa tersenyum sekilas dan kembali mengobrol dengan pria itu.

Ha Neul memperhatikan pria itu, ia belum pernah melihatnya, rasanya dia terlalu muda jika ia ternyata teman sang appa.

“Ah, ini putriku, namanya Choi Ha Neul.. aku harap kau bisa menjadi tutornya dengan baik..” ucap sang Appa.

Namja itu menatap Ha Neul dan tersenyum, “Anneyong, Luhan Imnida, mohon bantuannya, senang bertemu denganmu” ucapnya sambil menunduk sopan. Ha Neul mengerjap, namja didepannya ini ternyata tampan, mata rusanya yang bulat menyipit ketika ia tersenyum. Juga senyumnya...

“Nah, Ha Neul, mulai sekarang dia adalah tutormu, kau akan ada kelas dengannya setiap hari selasa, jum’at dan minggu” Jelas sang appa.

Tunggu..

Tutor?

“Tutor apa..?” Tanya Ha Neul pelan, ia menengok ke arah umma meminta penjelasan.

“Umma khawatir dengan nilaimu yang terus menurun, chagi, sebentar lagi kau ujian dan kau harus belajar lebih baik lagi, dan appa sudah mencarikan Tutor untukmu, dia ini mahasiswa tingkat akhir di Beijing University, dan sekarang sedang mengikuti pertukaran mahasiswa disini.” Jelas sang umma.

“Ta..tapi.. tidak harus mendatangkan tutor seperti ini kan, appa? Aku bisa belajar sendiri”

“Appa dan Umma mendatangkan tutor untukmu agar belajarmu lebih teratur sayang, umma tahu, akhir-akhir ini kau sulit mengatur waktu belajarmu, maka dari itu umma membuat jadwal tutorial agar kau leluasa menggunakan waktu belajarmu..” jelas sang umma tenang sambil mengelus rambut putrinya.

Ha Neul diam, ugh.. bukannya tak mau, tapi hell.. masih butuh kah ia seorang tutor, dia bisa belajar sendiri, hei dia juga termasuk siswa cerdas disekolahnya. Tapi ia tak bisa melawan keinginan orang tuanya, ia pikir ada bagusnya juga.

“Ah kalau begitu karena ini hari minggu mungkin kalian bisa memulai belajarnya atau ingin mengobrol santai dulu..” ucap appa sambil membenarkan posisi duduknya.

“Mohon bantuannya Luhan-ssi” luhan mengangguk.
.
.
.
.
.
.
Luhan dan Ha Neul sedang berada di taman belakang rumah keluarga Ha Neul, suasana sepi dan sedikit .. em,, canggung. Keduanya diam dan tak ada yang memulai pembicaraan. Padahal sebelumnya mereka sudah berkenalan.

Ha Neul bergerak gelisah, ia jengah dengan keadaan ini. Matanya melirik namja disampingnya yang terlihat asyik dengan smartphone ditangannya. Tanpa sadar Ha Neul memperhatikan tiap lekuk sang namja disampingnya, dari sudut ini dia bisa melihat bulu matanya yang panjang dan lentik, hidung mancungnya dan mata rusanya yang teduh. ‘ugh.. tampan..’ batin nya tanpa sadar.

Merasa diperhatikan, Luhan melepaskan perhatian dari smartphonnya dan menengok mendapati Ha Neul menatapnya dengan alis sedikit berkerut.

“Waeyo..?” tanya Luhan.

“....” Ha Neul tak bergeming, ia masih saja asik dalam pikiranya sendiri.

“Ya! Waeyo?” tanya Luhan lagi sambil melambaikan tangannya didepan mata yeoja itu.

Ha Neul mengerjabkan matanya lucu, lalu menggeleng cepat. Ia lalu menggaruk belakang kepalanya sambil tertawa garing.

“A.. aniyo..” gumamnya.

‘Aigoo kyeopta...’ batin Luhan tanpa sadar.

Luhan lalu tersenyum lembut, ia tahu Ha Neul merasa canggung dengan keadaan ini.

“Ah... sepertinya tidak mungkin memulai belajar hari ini.. bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan dulu... otte?” tanya Luhan.

“Ne? Jalan-jalan?”

“Ya.. sepertinya beberapa cemilan dan soda bagus juga..” senyum Luhan. Kemudian ia bangkit dan meraih lengan Ha Neul.

“Kajja!”
.
.
.
.
.
”Hei,, kau cukup pintar Ha Neul-ah... lalu kenapa nilaimu menurun seperti ini?” tanya Luhan ketika memeriksa nilai-nilai Ha Neul, sebagai tutornya tentu harus melihat sejauh mana anak didiknya berkembang dalam belajarnya kan.

“a..aku juga tidak tahu, akhir-akhir ini mood ku untuk belajar menghilang” jawab Ha Neul.

“Apa ada sesuatu yang menyebabkan itu, karena kupikir, nilai mu begitu anjlok, tidak mungkin kalau tidak ada penyebabnya.” Luhan masih mengamati nilai-nilai Ha Neul, sesekali melirik gadis itu. Mereka sedang berada diruang belajar Ha Neul.

“Ya.. sedikit..” ucap Ha Neul pelan.

“Sedikit?” tanya Luhan.

“Sedikit masalah..”

“Hmm.. baiklah,, kalau begitu aku akan berusaha mengembalikan semangat belajarmu, jangan sia-siakan waktu mu sekarang, sebentar lagi ujian kelulusan kan?” ucap Luhan. Ha Neul mengangguk, mereka memulai pelajaran hari itu.
.
.
.
.
Flashback ke sebulan lalu

“Appa sudah menjodohkanmu dengan putra kenalan Appa, keluarganya merupakan relasi perusahaan kita.” Jelas Appa yang duduk disebelah Umma di sofa putih ruang keluarga itu.

Ha Neul terdiam, apa katanya? Dijodohkan? Apa? Perjodohan??

“Perjodohan apa?” tanya Ha Neul setengah berbisik, dia masih shock.

“Iya sayang, sekitar setahun lagi kau lulus SMA bukan? Umma dan Appa sudah sepakat akan menjodohkanmu dengannya, tenang saja, dia pria baik, Appa kenal dekat dengan ayahnya, dengan begitu kau tidak perlu takut, ini demi jaminan masa depanmu juga, sayang” Jelas Umma.

Ha Neul masih diam, entah kenapa pikirannya bergerak lambat sekarang. Apa katanya tadi? Appa dan Umma menjodohkanya? Terpikir untuk punya pacar saja belum, dan ini tiba-tiba akan dijodohkan?

“Aku tidak mau Appa..” jawab Ha Neul.

“Appa yakin kau akan suka dengannya, chagi,” Bujuk Appa.

“Aku tidak mau.. Aku tidak mau dijodohkan, aku masih ingin bebas bersama teman-temanku, aku tidak mau dijodohkan”

“Kau masih bisa bermain dengan teman-temanmu itu, nak, hanya saja kau akan lebih aman karena ada yang menjagamu, dengan itu kau akan aman.” Lanjut Umma.

“Dia nanti akan membantumu meneruskan perusahaan Appa”

“Kenapa tidak Oppa saja yang meneruskan perusahaan Appa, aku tidak mau!”

“Oppa mu sudah memegang perusahaan yang di Kanada, sayang, maka dari itu kau bersama calonmu itu yang akan mengendalikan perusahaan disini..” jelas Umma masih dengan tenang, berharap sang putri mau mengerti.

“Ah, dia memang masih lama datang kemari, dia masih menyelesaikan kuliahnya di luar negeri, kau bisa mengenalnya lewat foto dan nomor teleponnya disini.” Ucap Appa sambil menyerahkan sebuah map biru yang Ha Neul yakin berisi identitas namja yang akan dijodohkan dengannya itu.

“AKU TIDAK MAU!!” Pekik Ha Neul langsung berdiri dan berlari ke kamarnya. Appa dan Umma hanya menghela nafas memaklumi sifat putrinya itu.

“Biarkan saja dia dulu, aku tahu dia shock. Tetapi perjodohan ini harus tetap dilaksanakan.” Ucap Appa tegas, sang Umma hanya bisa menghela nafas lagi.

End flashback
.
.
.
.
Sejak itulah nilai Ha Neul mulai menurun, fikirannya tidak fokus, ia bahkan mulai merasa malas ke sekolah, padahal sebentar lagi ujian kelulusan seharusnya ia mempersiapkannya, seperti teman-temannya yang mengambil kelas les seusai sekolah, atau dengan bimbingan belajar intens. Tetapi rasanya Ha Neul malas sekali. Ia tidak peduli dengan nilai-nilainya. Menghindarpun rasanya tak mungkin, mengingat rasa sayangnya yang begitu besar pada kedua orang tuanya, ia tak mau mengecewakan keduanya.

Ha Neul hanya diam sejak itu, map yang diberikan Appa tidak disentuhnya sama sekali. Ia hanya menyimpannya di tumpukan terbawah bukunya di lemari bukunya.
.
.
.
.
.
Lambat laun Ha Neul sedikit melupakan soal perjodohan itu, berusaha melupakan tepatnya, jujur saja setelah orang tuanya membicarakan soal perjodohan itu sulit sekali buat Ha Neul untuk bersikap biasa saja, ia ingin sekali menolak, tapi tetap sulit melakukannya. Sulit sekali menolak keinginan orang tua, hingga seperti saat ini, Ha Neul belajar ditemani seorang tutor, well, ini memang tidak serumit perjodohan tadi, tapi tetap saja itu keinginan orang tua kan?

“Ya! Ha Neul-ah!” panggilan itu menyadarkan Ha Neul dari lamunannya.

“Kau melamun, eoh?” tanya Luhan, sedari tadi ia memanggil gadis dihadapannya itu, tetapi tidak juga mendapat respon darinya.

“A..ah mianhae Luhan-ssi.. aku tidak fokus, emh.. sampai mana kita tadi..”

“Gezz.. sudahlah tak apa.. emh tapi jangan panggil aku dengan –ssi, itu terdengar kurang akrab.” Ucap Luhan tak lupa dengan senyumnya.

“Lalu aku harus memanggilmu apa?”

“Oppa, karena aku lebih tua darimu, atau Gege saja, karena aku dari Cina..”

“Ne, gege...” Jawab Ha Neul dengan senyumnya.

“Bagus, cha.. ayo kita mulai lagi belajarnya.” Ucap Luhan secara refleks mengacak rambut Ha Neul.

Luhan tak tahu bahwa perlakuanya itu membuat Ha Neul sedikit tertegun. Ha Neul menyentuh kepalanya yang tadi diusap Luhan, senyum kecil mengembang di bibirnya. ‘hangat..’.
.
.
.
.
.
“Lu Ge..” tanya Ha Neul ketika mereka mampir di kedai bubble tea didekat sekolah Ha Neul. Mereka tak sengaja bertemu ketika Luhan pulang dari kampusnya melewati sekolah Ha Neul bertepatan dengan berakhirnya jam sekolah. Jadi mereka berdua memutuskan untuk mampir sebentar di kedai bubble tea.

“Hmm?” tanya Luhan. Ia masih asyik dengan bubble tea taro nya. Bibirnya mengulum sedotan itu, menggerak-gerakkannya mengejar bola-bola tapioka berwarna hitam didalam gelas itu. Otomatis bibirnya membulat dan terlihat lucu, mata rusanya membesar dan menyipit mencari letak bubble itu disela-sela es batu.

‘Aigoo.. dia ini sebenarnya umur berapa sih..’ batin Ha Neul.

“Lu-ge...” panggilnya lagi.

“Ssrrllppp.. nyam..nyam aaahh dapat.. hehe, wae Ha Neul-ah?” jawab Luhan tanpa dosa setelah menelan bubble yang berhasil ia dapatkan. Ha Neul menatapnya datar.

“aa..ahahha mianhae.. hehe waeyo?” tanya Luhan lagi.

“Kenapa kau sangat menyukai bubble tea?”

“Bubble tea itu manis, minum ini penuh sensasi, ya seperti tadi.”

“Minum bubble tea, seperti anak-anak..”

“Ya! Bubble tea itu untuk semua umur. Kau bicara begitu karena kau belum pernah mencobanya. Ini, kau harus mencobanya!” ujar Luhan seraya menyodorkan gelas bubble tea nya yang sudah berisi setengah.

“Minumlah”

Ha Neul akhirnya meraih gelas pelastik itu dan meneguk isinya. Bola-bola kenyal itu masuk ke rongga mulutnya, rasa manis minuman itu lolos ke tenggorokannya. Ha Neul tanpa sadar menikmatinya.

“Enak..” Gumamnya sangat pelan.

“Benar kan! Sudah kubilang kau bisa mengatakan itu karena kau belum pernah mencobanya, Ha Neul-ah!” Luhan terkekeh sambil mengusak lembut rambut Ha Neul.

Lagi-lagi Ha Neul hanya diam mendapati perlakuan seperti itu, entahlah, ia merasa nyaman hanya dengan usapan lembut Luhan di kepalanya. Tanpa sadar ia tersenyum.

“Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan... ke Lotte World mungkin?” Ujar Luhan setelah keheningan.

“Ne? Bukannya hari ini jadwal tutorialku?” tanya Ha Neul. Ia menggenggam gelas bubble tea yang tak terasa sudah kosong.

“No, kita akan jalan-jalan hari ini. Aku akan mengajarkan sesuatu yang sangat penting padamu. Anggap ini bagian dari tutorialku.” Luhan merapikan jaketnya dan sedikit menyisir rambutnya dengan jari.

“Kajja!” Ia meraih tangan Ha Neul dan menggenggamnya menuju halte bus dekat situ.
.
.
.
.
.
Seharian penuh mereka habiskan di lotte world, Luhan tak hentinya menarik tangan Ha Neul kesana kemari. Awalnya Ha Neul sedikit risih melihat kelakuan namja ini, namun lama kelamaan ia menikmatinya juga.

Luhan yang ceria berhasil membuat Ha Neul tertawa seharian ini. Entahlah, ia hanya merasa nyaman.

“Keadaan hati pun berpengaruh saat kau belajar. Kalau kau murung terus seperti itu, sekeras apapun kau ingin belajar, kau tetap sulit berkonsentrasi. Pelajaran hari ini, pengembalian mood.” Ucap Luhan ketika mereka beranjak keluar dari Lotte World. Ha Neul menatap namja itu paham. Ia benar, akhir-akhir ini mungkin Ha Neul terlalu murung memikirkan perjodohan itu, dan Luhan berhasil mengembalikan senyum cerianya.

“Gomawo, Lu ge..” senyum Ha Neul. Luhan balas tersenyum seraya mengusak kepala Ha Neul. Seperti sudah menjadi kebiasaanya saat ini.

‘Akan aku lakukan semuanya Ha Neul-ah...’
.
.
.
.
.
Luhan berdiri di balkon apartemennya. Menyesap teh manis hangat untuk sedikit mengusir hawa dingin yang menguar. Salahnya sendiri, di cuaca dingin seperti ini ia hanya mengenakan tshirt dan celana pendek selutut.

“Ah.. apa dia tidak menyukaiku? Mengapa reaksinya hanya seperti itu huh?” gumamnya entah pada siapa.

“Yang terpenting aku dapat melihat senyummu lagi..” gumamnya kemudian tersenyum. Lalu kembali menyesap teh hangatnya. Sedikit bergaya saat menelan teh itu, dan mengecap bibirnya di akhir, ugh obsesi artis..
.
.
.
.
.
.
Kasak-kusuk itu semakin terdengah jelas di telinga Ha Neul. Tapi ia berusaha keras mengabaikannya. Masih pagi, dan ia tidak ingin menghabiskan energinya untuk marah-marah. Bagaimana tidak, kemanapun ia melangkah namja berjaket merah itu selalu mengikutinya. Mengabaikan tatapan heran beberapa siswa-siswi yang dilewatinya. Dengan polosnya ia hanya memasukan kedua tangannya ke saku jaket dan berjalan santai sesekali bersiul mengikuti Ha Neul yang berjalan di depannya.

“Ya! Lu ge! Kenapa kau datang ke sekolahku, eoh?” tanya Ha Neul yang telah jengah.

“Sebagai tutormu aku harus tahu bagaimana lingkungan belajarmu, Ha Neul-ah” jawab Luhan sambil menengok kesegala arah memperhatikan keadaan sekolah Ha Neul.

“Ishh tidak perlu sampai seperti itu!” ucap Ha Neul risih.

Namja tampan itu tiba-tiba saja datang ke sekolahnya dan membuatnya menjadi pusat perhatian pagi itu. Berbagai pertanyaan seenaknya terlontar dari mulut siswi-siswi penggosip disana.

‘Kyaaa tampaaan.. siapa diaaa?’

‘aigooo aigooo mimpi apa aku semalam bertemu manusia tampan’

‘apa dia kekasih Choi Ha Neul? Huwaaaa aku mati sajaaa’

Ha Neul mendecih, tutornya ini sungguh menyebalkan. Apa tadi dia bilang? Melihat lingkungan belajar? Aeh, paling hanya ingin tebar pesona, ck ck.

Melihat Ha Neul yang setia mendecih dan bergumam membuat Luhan terkikik.

“Ha Neul-ah, harusnya kau senang aku datang kesini, dengan begini kau jadi pusat perhatian karena seorang pria tampan sepertiku ini.” Ujar Luhan.

Ha Neul meniup poninya dan mempercepat langkahnya menuju kelas, mengabaikan ocehan Luhan yang mulai tebar pesona lagi.
.
.
.
.
.
.
“Ya, tadi itu yang kau bilang tutormu?” tanya Eun Ah, mereka sedang makan siang di kantin sekarang. Akhirnya Ha Neul berhasil membujuk Luhan pulang dengan ancaman bahwa ahjumma kantin mereka suka menggoda lelaki seperti Luhan. Ha Neul-ah, kalau ahjumma kantinmu benar-benar mendengar hal itu, kupastikan kau akan kelaparan di sekolah..

“Ne..”

“Jinjja?! Aigoo dia imut sekaliii...” Eun Ah berkata sambil mengunyah makanannya.

“Kau bilang begitu karena kau belum tahu sifatnya...” Ha Neul menimpali. “Dia sangat narsis dan pemaksa, juga seenaknya..” lanjutnya.

“Aaah yang penting dia imut...” ujar Eun Ah. Ha Neul kembali mendengus dan melanjutkan makan nya.

“Kau ingin kuadukan pada Baekhyun, eoh?”

“Ya! Aniyeo! Baekhyunnie tetap yang paling imut!”

“Hai, boleh aku ikut duduk disini?” Suara bass itu memecah keheningan singkat antara dua sahabat itu.

“Chanyeol sunbae...” ucap Ha Neul. Lelaki yang dipanggil Chanyeol itu duduk di kursi kosong disamping Ha Neul.

“Aku tidak mengganggu, kan? Semua kursi penuh dan kurasa disini masih tersedia kursi kosong..” tanya pria itu sambil meletakkan tray makanan di atas meja dihadapannya.

“Ah, aniyo.. tentu saja tidak masalah, sunbae.” Jawab Haneul. Suasana di meja itu sedikit canggung memang, mengingat Chanyeol merupakan sunbae yang bisa dibilang disegani, dengan wajah tampan tubuh tinggi dan kemampuan musik dan olahraganya yang baik. Jujur saja, Haneul memang mengidolakan sunbae setingkat diatasnya itu. Dan mendapati sunbae kesayangannya duduk disebelahnya saat ini tentunya membuat jantungnya berdetak kencang.

Eun Ah menyimpan alat makannya dan membereskannya, ia mengusap tisu membersihkan mulutnya.

“Haneul-ah, aku duluan tidak apa? Baekhyunnie menungguku di perpustakaan.” Ucapnya sambil merapikan pakaiannya. Haneul mengangguk.

“Sunbae, aku pergi dulu, makanlah dengan tenang dengan sahabatku ini, ne.. tenang, dia tidak menggigit!” ucap Eun Ah sebelum pergi dibalas senyuman lima jari sang sunbae.

“Geez.. anak itu!” cibir Haneul.

Keadaan kembali hening disana, dua orang itu masih sibuk menikmati makan siang mereka.

“Haneul-ah... sore ini ada waktu?” tanya Chanyeol.

“Ne?”

“Aku akan ke toko alat musik, memperbaiki gitarku.. kalau kau ada waktu mau menemaniku?”

“A..ah.. ne, tentu saja sunbae.. sore ini aku ada waktu”

“Ah, joa.. kalau begitu jam 5 sore nanti aku menunggu di gerbang sekolah, ne..” ucap Chanyeol dengan cengirannya. Haneul mengangguk, kapan lagi ia bisa jalan dengan senior idolanya itu, kesempatan yang langka.
.
.
.
.
.
Haneul bergegas membereskan buku-buku yang berserakan dan memasukannya kedalam tas. Selepas pelajaran berakhir ia langsung merapikan peralatannya dan akan bergegas menuju gerbang dimana sunbaenya telah menunggu. Pergerakannya terhenti ketika ponselnya bergetar.

Luhan Gege is calling...

“Yeoboseyo?” jawab Haneul.

“Haneul-ah, kelasmu sudah berakhir? Aku sedang berada di daerah dekat sekolahmu, mau pulang bersama?” ujar sebuah suara di seberang sana.

“Ani, Luhan ge, setelah ini aku akan ke toko musik dengan Chanyeol oppa..”

“Chanyeol? Nugu?”

“Sunbae-ku, dia memintaku menemani ke toko musik memperbaiki gitarnya”

“setelah ini kau ada tutorial bersamaku, kau ingat?”

“Ah.. Lu ge... bolehkan aku libur... kali ini saja... nee?”

Terdengar hela nafas dari sebrang telepon Haneul tahu Luhan kurang suka dengan permintaanya.

“Lu ge.. jebaaal.. selama ini kita belum pernah ada libur.. sekali ini sajaaa...” haneul masih berusaha membujuk Luhan.

“haaah.. arra.. terserahmu saja. Jangan pulang terlalu malam.” Jawab Luhan akhirnya.

“Jinjja?! Gomawo Lu ge!”
.
.
.
.
.
Luhan menjauhkan ponsel dari telinganya dan menghela nafas berat. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kafe bubble tea yang berada di dekat sekolah Haneu. Ya, Luhan menunggu Haneul pulang bermaksud menjemputnya. Tadinya..

“Chanyeol.. nugu?” gumamnya.
.
.
.
.
.
“Chanyeol sunbae!” pria itu menengok kearah asal suara itu, lalu tersenyum mendapati seorang gadis yang berlari kecil mendekatinya.

“Menunggu lama? Mianhae..” ucap gadis itu.

“Ani, gwaenchana, kajja.. kita pergi sekarang.” Chanyeol secara refleks menarik tangan Haneul dan mereka berjalan beriringan.

Tanpa mereka berdua sadari, di kafe bubble tea tak jauh dari sana, Luhan mengepal tangan erat menyaksikan itu.
.
.
.
.
.
.
Suasana kamar itu hening. Hanya terdengar suara goresan pensil diatas kertas dan gesekan kertas yang beradu. Suasananya sangat tenang, mendukung dua orang didalam ruangan itu untuk belajar.

Sesekali Haneul melirik namja yang duduk didepannya. Namja itu terlihat serius membaca buku tebal dihadapannya. Haneul merasa sedikit risih sebenarnya, Luhan yang biasanya ceria dan banyak bicara ketika mengajarinya, kali ini lebih banyak diam.

“Luhan ge, aku tidak mengerti yang ini..” Haneul menyodorkan buku tugasnya ke hadapan Luhan, Luhan sedikit terkejut lalu mengalihkan perhatiannya dari buku tebal yang sedari tadi ia baca.

Luhan memberi beberapa pengerjaan singkat untuk membantu pertanyaan Haneul tadi. Suasana sedikit menghangat daripada tadi. Mereka melanjutkan kembali acara belajar mereka.
.
.
.
.
Luhan menutup buku tebalnya setelah menandai halaman yang akan dia baca selanjutnya. Ia meregangkan otot tangannya yang kaku. Lalu menoleh kedepan dimana Haneul berada disana. Ia sedikit heran sedari tadi rasanya Haneul tidak bersuara.

Ia tersenyum lembut mendapati gadis itu tertidur pulas diatas meja dengan pensil yang masih berada di genggamannya. Sepertinya gadis itu kelelahan. Luhan memeriksa buku tugas Haneul dan tersenyum, gadis itu sudah menyelesaikan tugasnya ternyata.

Luhan beranjak dari duduknya beralih mendekati Haneul. Dengan lembut ia mengangkat tubuh Haneul dan menggendongnya keatas tempat tidur si gadis. Luhan merapikan anak rambut di dahi Haneul dan mengusap pucuk kepalanya lembut, setelahnya menyelimuti tubuh si gadis agar ia tidak kedinginan.

“Kau belum menyadarinya, Haneul-ah?” ia berbisik sambil mengusap rambut Haneul.

“Apa yang harus kulakukan agar kau menyadariku?” lanjutnya. Ia kemudian menutup mata sambil menghela nafas panjang.

“Saranghae, Haneu-ah..” mengecup singkat dahi sang gadis.

Luhan beranjak dari kamar Haneul setelah memastikan gadis itu nyaman dalam tidurnya. Lalu beranjak pulang setelah berpamitan pada kedua orang tua Haneul.
.
.
.
.
.
Hampir satu bulan berlalu, dan tanpa diduga Haneul semakin dekat dengan sunbaenya, Chanyeol. Mereka berdua seringkali terlihat bersama, bahkan mereka menyempatkan diri untuk hang out bersama di waktu tertentu.

Namun, Luhan merasa Haneul semakin menjauh darinya. Seringkali Haneul menolak tutorial dengan alasan ada janji dengan Chanyeol. Jarang sekali mereka bertemu. Meski diam-diam Luhan sering datang ke sekolah Haneul untuk melihat gadis itu. Dan tersenyum melihat Haneul terlihat senang. Meskipun jauh dilubuk hatinya ia merasa sakit. Kenapa bukan ia yang berada disisi Haneul sekarang?
.
.
.
.
.
.
Luhan melirik kalender kecil yang disimpan di meja nakasnya. Ia menghela nafas berat. Satu hari lagi, pikirnya. Ia kembali melipat bajunya dan memasukannya kedalam koper.

“Saranghae Haneul-ah..”
.
.
.
.
.
Haneul sedang menata dirinya didepan cermin ketika ia mendengar pintu kamarnya diketuk. Dengan segera ia beranjak membuka pintu dan mendapati Luhan didepan pintu kamarnya.

“Ah, Luhan gege! Ada apa?” tanyanya riang, Luhan tersenyum lembut membalasnya.

“Kau ingat Haneul-ah? Sudah berapa lama kita tidak melakukan tutorial?” tanya Luhan lembut.

“Ah.. mianhae, gege.. sekarang aku akan pergi dengan Chanyeol menemaninya berlatih basket, tak lama lagi ia akan bertanding jadi aku ingin me-“

“Kau sudah terlalu banyak membolos tutorial kita Haneul-ah, bagaimana belajarmu sekarang, kau terlalu sering keluar dengan Chanyeol itu!” Luhan memotong perkataan Haneul cepat. Ia sudah muak sebenarnya, selalu saja Chanyeol. Sehingga tanpa sadar suaranya meninggi. Terkesan marah.

“Kenapa gege membentakku?! Kenapa juga gege menyalahkan Chanyeol?!” timpal Haneul tak terima.

“Karena aku tutormu! Aku ditugaskan orangtuamu untuk membantumu belajar! Kalau kau hanya main-main seperti ini, itu sangat mengganggu belajarmu!!” Luhan terbawa emosi.

“DARI AWAL AKU TIDAK MEMBUTUHKAN TUTOR!! Aku bisa belajar sendiri! Aku hanya mengikuti keinginan appa dan umma! Dari awal aku tak menginginkanmu menjadi tutorku!! Kau saja yang datang sendiri padaku!! Dan kenapa sekarang kau juga membatasi pergerakanku!! MENGGANGGU SEKALI!! TAK BISAKAH AKU MELAKUKAN APA YANG AKU INGINKAN SENDIRI??!!!” Nafas Haneul terengah, air mata menggenang di pelupuk matanya dan bebas terjun kapan saja.

Luhan terdiam, hatinya tertohok mendengar perkataan Haneul. Apa selama ini ia mengganggu?

Matanya menatap lekat Haneul. Tangannya terkepal makin erat berusaha menahan emosinya. Wajah tampan nan imut itu berubah datar mekipun matanya masih menyimpan kemarahan disana, bercampur cemburu. Ia menarik nafas panjang menetralkan emosinya.

“Baiklah, jika itu menurutmu..” ucapnya tenang.

“Ini kumpulan soal yang mungkin berguna untuk latihanmu.” Lanjutnya menyerahkan setumpuk kertas berisi soal latihan yang di klip dengan rapi.

“Kalau begitu semoga belajarmu lancar dan berhasil di ujian nanti. Aku tidak akan muncul dihadapanmu dan mengganggumu lagi”

Luhan berbalik tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tanpa disadari matanya panas. Setitik air mata lolos dari mata rusanya. Perlahan dengan tenang ia keluar dari rumah Haneul. Tersenyum tipis mendapati umma Haneul di ruang tamu. Mungkin beliau juga mendengar keributan tadi, ia membungkuk sopan lalu berpamit.

‘Selamat tinggal, nae sarang’
.
.
.
.
Haneul menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia merutuki semua perkataan kasarnya tadi. Apa yang barusan ia katakan. Perkataanya menyakitkan sekali. Dan air mata itu lolos dengan sendirinya. Entah kenapa ia merasa kehilangan sekali.
.
.
.
.
.
Berminggu-minggu berlalu dan Luhan menepati perkataanya untuk  tidak muncul lagi dihadapan Haneul. Haneul merasa sangat kehilangan. Ia merasa sangat hampa. Berulang kali ia menghubungi ponsel Luhan berniat minta maaf tetapi nihil. Ponsel Luhan tidak pernah aktif.

Hubungannya dengan Chanyeol pun sudah merenggang. Ia sadar bahwa ia hanya sebatas kagum pada sunbaenya itu, mereka hanya merasa nyaman satu sama lain. Tidak ada perasaan lebih dari itu. Dan Haneul sadar, kalau hatinya dibawa pria yang pergi dari hadapannya. Yang hanya meninggalkan setumpuk soal latuhan untuknya.
.
.
.
.
.
Haneul membuka lembaran kertas latihan tersebut dan mulai mengerjakannya. Sebulan lebih sejak kejadia itu dan Luhan belum juga kembali. Ia seperti ditelan bumi. Haneul mencoba terbiasa, meskipun sulit karena ia sudah biasa belajar ditemani Luhan beserta celotehan namja itu.

Haneul membolak-balik lembaran kertas itu dan ia baru menyadari sesuatu, ia pun mengambil tumpukan soal-soal yang pernah diberikan Luhan padanya selama tutorial, dan di setiap ujung bawah kertas soal itu ada tulisan dan gambar-gambar buatan Luhan berisi kalimat penyemangat. Haneul tersenyum, namun tak lama senyuman itu berubah miris.

“Apa aku sangat tidak peka, Lulu Ge...?”

‘Aku sangat merindukanmu’
.
.
.
.
.
.

1,5 Years later...

Haneul mengaku ia tidak peka, bahkan ia pelupa. Ia lupa kalau ia sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Ia pikir setelah bertahun lamanya orang tuanya akan lupa kalau ia sudah dijodohkan. Tetapi ternyata ingatan ummanya kuat juga. 

Hingga Haneul berakhir di ruang kamarnya duduk menghadap kaca rias dengan gaun selutut berwarna peach yang pas di tubuhnya. Rambut sebahunya dibuat bergelombang ditambah tiara kecil disebelah kiri kepalanya. Juga make up natural yang melapisi kulit wajahnya. Ya, ia akan bertunangan hari ini.

Akhir-akhir ini banyak hal yang mengalihkan pikirannya sehingga ia tidak fokus. Mulai dari nilai sekolahnya, ujian, dan hal lain sehingga ia lupa soal perjodohan ini. Dan yang paling ia pikirkan adalah, Luhan. Entahlah, semenjak itu Haneul mencoba mencari keberadaan pria penyuka bubble tea itu tapi tetap tidak berhasil menemukannya. Dan sekarang ia putus asa, mau berusaha bagaimana lagi, semua sudah terlambat sekarang. Beberapa jam lagi ia akan bertunangan dan menemukan Luhan kemungkinannya sangat sedikit.

Ia menunduk, tanpa sadar ia menangis. Ia menyesal, ia sadar ia menyukai pria mata rusa itu. Tapi ia tidak peka hingga mengabaikannya. Dan sekarang ia sangat sangat menyesal. Menyesal karena menyia-nyiakannya, menyesal karena bersikeras mendapatkan yang tidak pasti padahal yang benar-benar ia inginkan ada disampingnya, menyesal karena perkataan kasarnya, menyesal karena ia tidak bisa menyatakan perasaanya pada orang yang benar-benar ia cintai.

Haneul terus terisak, tidak peduli make upnya luntur atau riasan rambutnya berantakan. Ia tidak peduli. Dan mungkin saja calon tunangannya nanti menjadi tidak suka melihatnya berantakan dan membatalkan pertunangannya. Hell, Haneul tidak mau bertunangan dengan pria yang tidak ia kenal!

“Ck.. aku tidak mau riasan calon tunanganku rusak karena ia menangis...”

Suara itu mengejutkan Haneul, suara yang berasal dari arah pintu kamarnya. Haneul menengok kearah pintu, matanya buram karena air mata sialan itu.

Perlahan ia dapat melihat dengan jelas seorang pria dengan jas hitamnya dan rambut coklat kemerahan berdiri di pintu kamarnya. Pria itu perlahan mendekatinya.

Secara slow motion, kilas balik itu berputar seperti film di kepala Haneul. Matanya mengerjap memperjelas penglihatannya. Dan ia terpaku, mendapati senyum manis pria tampan nan imut dihadapannya. Dan tanpa ragu ia menghambur kepelukan sang pria.

“Luhan ge...” ucapnya ditengah tangisnya yang makin kencang.

“hei.. kenapa menangis..?” pria itu balas memeluk Haneul erat, sangat erat, mengelus kepala sang gadis dengan lembut.

“Bogoshipeo..” cicit haneul.

“Nado, nae sarang... maaf meninggalkanmu tiba-tiba..”

“Kemana saja kau..” Haneul mendongak menatap wajah Luhan. Luhan membawa sebelah tangannya menangkup pipi Haneul dan mengelusnya, sementara tangan lainnya masih setia memeluk tubuh Haneul.

“Mian... setelah hari itu aku kembali ke Cina menyelesaikan studiku, karena waktu pertukaranku sudah habis, dan aku harus menyelesaikan tugas akhirku. Dan sekarang aku kembali kesini untuk menjemput tunanganku.” Jawabnya lembut sambil masih mengelus pipi Haneul. Mereka masih betah berpelukan dan posisi mereka belum berubah.

“Tunangan...? kau.. yang dijodohkan denganku..?”

“Eum... dan sebenarnya aku menjadi tutormu agar aku bisa lebih dekat denganmu.... semenjak melihat fotomu di map perjodohan itu aku sudah tertarik padamu, dan aku datang ke Korea mengikuti pertukaran dan bertemu denganmu.” Jelasnya.

“Aku... tidak tahu.. kalau itu kau..”

“Tidak tahu..?”

Haneul mengangguk

“Kau.. tidak pernah melihat fotoku di map perjodohan?” tanya Luhan.

Seketika Haneul ingat, sejak ia diberitahu tentang perjodohan itu, Haneul tidak pernah membuka map itu. Ia tiba-tiba melepaskan pelukan Luhan dan beranjak ke meja belajarnya. Ia meraih tumpukan buku paling bawah dan menarik map biru dari sana. Benar saja, map biru itu sudah usang dan berdebu. Haneul membukanya dan benar, ia menemukan foto dan data Luhan disana.

Luhan mendekat dan kembali memeluk Haneul erat. Haneul balas memeluknya lagi.

“Maaf, aku sangat kesal saat diberitahu akan dijodohkan, aku jadi malas tahu calon tunanganku seperti apa..” ucap Haneul di dada Luhan.

“Gwaenchana... setidaknya sekarang kau sudah menjadi milikku.” Perkataan Luhan membuat Haneul merona.

“Maaf juga.. karena aku tidak peka...”

“Hei, baby.. kenapa kau masih membahas itu, hm?” Haneul makin merona mendengar panggilan baru Luhan untuknya.

“Yang kau lihat adalah sekarang, penyesalanmu sudah berakhir, dan sekarang aku sudah kembali dan kamu menjadi milikku. Tak akan ada yang akan mengambilmu dariku lagi..” ucap Luhan. Ia menangkup kedua pipi Haneul.

“Saranghae, Haneul-ah...”

Dengan sangat perlahan Luhan mendekatkan wajahnya ke wajah Haneul, keduanya memejamkan mata, kedua bibir itu hampir menempel jika saja...

“Ya! Luhan! Sudah kubilang kau dilarang mencium adikku sebelum kalian bertunangan!”

Kedua sejoli itu menjauhkan tubuh mereka, medapati pria tinggi berambut pirang tengah bersandar dipintu kamar Haneul dengan menyilangkan kedua tangan didadanya. Pria itu menggunakan setelan jas hitam mirip seperti yang Luhan kenakan.

“Ya! Kris, aku sudah lama tidak bertemu dengannya, ayolah...” rajuk Luhan.

“Kau mengenal Kris oppa?” tanya Haneul.

“Tentu saja baby, dia yang mencemputku saat aku kemari. Dia juga yang memberi ide menjadi tutormu...” jelas Luhan.

“Jadi selama ini hanya aku yang tidak tahu apa-apa... aku merasa dibodohi.. huh..” Haneul merajuk.

“Kau memang bodoh, saengie...” celetuk Kris asal.

“Yaa! Oppa!  Adikmu tidak bodoh!” balas Haneul.

Ditengah perdebatan kakak adik itu, seorang wanita datang ke kamar itu, otomatis menghentikan pertengkaran tidak penting itu.

“Aigo.. kalian semua disini..? Haneul-ah, Luhan-ah... sebentar lagi acara pertunangannya akan dimulai.. segeralah kebawah, para tamu sudah menunggu.”

“Ah.. ne, Sha na onnie..” jawab Haneul pada wanita yang dipanggil Sha Na, kakak iparnya.

“Dan rapikan dahulu make up mu... kau ini, bisakah tidak berantakan seperti itu..” lanjut Sha Na.

“Baiklah, kami semua menunggu di bawah, kalian cepatlah... ayo, yeobo..” ujar Sha Na cepat dan menarik Kris keluar dari kamar itu.

Dengan cepat Luhan kembali memeluk Haneul dan mencium bibirnya, sedikit kecupan dan kuluman, membuat Haneul merona hebat.

“Saranghae, jeongmal saranghae...” ujar Luhan lembut, diciumnya dahi Haneul dan mengusap rambutnya.

“Nado... Luhan.. nado saranghae...”
.
.
.
.
.
.
END ^^

Komentar

  1. hasemeleh .... setaun fakum ... ide2'y ilang ke format semua dlam 3 detik ... dan saya berada di sana .... hahahaha

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer