That Promise Chapter 2
Title: That Promise Chapter 2
Author: NendenNurpujiHasanah @Nenden_Hasanah
Cast: Kai (EXO K), Thiya (OC)
Cast: Kai (EXO K), Thiya (OC)
Genre: Romance,sad
Rate: T (PG-17)
Length: Chapter
Disclaimer: All the cast is not mine.. but the story is pure mine. Inspired from some FF and comic.
Oke dehhh Author cantik keren badai ini ngga akan banyak bacon!
Happy Reading :D
Chapter 2
“Saranghae, Kai Oppa….”
Apa dia bisa mendengar suaraku?
Aku menatapnya heran, matanya sudah terpejam, jejak
air matanya telah mengering, terdengar hembusan nafas teratur. Dia sudah
tertidur.. Mengigau?
Aku tersenyum, kembali kukecup singkat keningnya.
Rasanya tak bosan memandanginya. Wajah tidurnya yang tenang, tapi tetap menyimpan
kesedihan….
Aku pun membaringkan tubuhku disebelahnya, merasakan
dengkuran halusnya yang teratur, aku memejamkan mataku.
Kai POV end
Author POV
Tanpa disadari, sayap kanan Kai makin bersinar, Thiya
tertidur dengan pulas, merasakan Kai berada dekat dengannya.
“Engh.. huwaa aku ketiduran…!” Thiya terbangun dan
segera beranjak dari tidurnya, ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4
sore.
“Sial.. berapa lama aku tertidur?!” ucapnya sambil
berlari kecil menuju kamarmandi setelah membawa baju ganti sebelumnya.
“Ummaa…!! Aku berangkat duluu!” teriaknya sambil
berlari keluar rumah.
“Hati-hati sayang…” Teriak Umma nya yang berada di
dapur.
Thiya berlari kecil menghampiri mobilnya yang berada
di halaman rumahnya yang luas. Mobil itu segera melaju menuju suatu tempat.
Baru kali ini ia bepergian dengan mobil pribadinya dan diantar seorang sopir
yang disediakan ayahnya. Sebelu ini, kemanapun ia selalu menolak untuk diantar,
karena pasti ada Kai yang akan menemaninya. Tapi kini, ia harus rela mau tak mau
diantar jemput oleh mobil pribadinya ini.
Mobil bercat perak itu berhenti didepan pemakaman,
Thiya keluar dari mobil itu, dan masuk ke area pemakaman itu, diikuti sopirnya
dibelakang.
“Ajusshi.. gwaenchanayo.. kau disini saja.. aku ingin
sendirian, ne?” katanya sebelum memasuki gerbang.
“Anda serius?” Tanya sopirnya meyakinkan.
“Ne, aku tidak akan lama, Ajusshi tunggu di mobil
saja..” jawab Thiya, sopir itu mengangguk dan membiarkan tuannya masuk ke area
pemakaman itu.
Thiya berjongkok di salah satu makam, dan menyimpan
sebuket rose di atasnya, ia melipat tangannya dan menunduk memejamkan matanya,
mulutnya berkumat kamit memanjatkan do’a untuk orang yang sangat dicintainya.
Tanpa ia sadari, Kai telah berjongkok juga
dihadapannya. Ia mendengar dengan jelas doa yang dipanjatkan Thiya, meski Thiya
berbisik mengucapkannya, tapi ditelinganya terdengar keras dan jelas.
Kai tersenyum penuh arti, ditatapnya yeoja didepannya
dengan tatapan tulus, kedua sayapnya terkembang lebar.. Meski warnanya terlihat
berlawanan.
“Oppa… bagaimana kabarmu hmm?” Thiya memulai
monolognya sambil mengusap nisan itu.
“Maafkan aku terlambat… tadi aku ketiduran.. hehe”
thiya terkekeh, lagi, menyembunyikan kesedihannya.
Kai hanya tersenyum, tersenyum tulus namun miris.
“Bahkan saat seperti ini pun kau masih sok kuat”
batin Kai.
“Oppa.. kau tahu… entah kenapa seharian ini,
ingatanku padamu datang berlimpah, sangat banyak….” Thiya memotong ucapanya,
dan mengelus nisan itu lagi.
“Dan kau tahu oppa… aku bahkan merasa mendengar suaramu,
merasakan sentuhanmu.. padahal.. itu tidak mungkin kan? Apa aku terlalu
kesepian sehingga aku berhayal merasakan itu? Haha” Thiya kembali tersenyum
miris.
“Tidak, Thiya.. kau memang benar-menar merasakannya..
karena aku memang disampingmu” kata Kai.
“Dan.. gilanya aku bahkan merasakan kalau kau ada
disampingku, tepat didekatku” Thiya menunduk.
“Padahal… kau sudah tak disini lagi, dan tak mungkin berada disisiku lagi.. hiks” pertahanan Thiya akhirnya runtuh, air mata itu tak kuasa di bendung lagi.
“Padahal… kau sudah tak disini lagi, dan tak mungkin berada disisiku lagi.. hiks” pertahanan Thiya akhirnya runtuh, air mata itu tak kuasa di bendung lagi.
Kai terbelalak, dadanya sesak, ia mencoba berdiri dan
merengkuh tubuh yeoja itu. Seketika Thiya merasa hangat, wajahnya masih
terbenam diantara kedua tanganya yang menutupnya erat.
Kai memeluknya erat, ia dapat merasakanya. Namun
tentu saja Thiya tak bisa.
“Oppa.. bahkan sekarangpun aku merasakan pelukanmu..
hiks” Thiya makin menunduk, kedua tangannya menutup erat wajahnya.
Mata Kai terpejam, merasakan getaran tubuh yeoja yang
berada dipelukannya itu. Perlahan airmata menetes, menyakitkan. Sangat.
Isakan Thiya makin terdengar keras, pilu, penuh
kesedihan. Air matanya membanjiri kedua telapak tangannya. Hati Kai miris
menyaksikannya. Ia menyaksikan dengan jelas seorang yang dicintainya menangis
didepannya. Menangisinya, tapi ia tak bisa melakukan apapun untuk
menenangkannya.
“Tuhan… kenapa kau lakukan ini padaku…” Tubuh Kai
bergetar.. tak kuasa menahan kesedihannya.
Tiba-tiba angin berhembus kencang, menerbangkan
dedaunan kering yang berserakan ditanah, Thiya mengangkat wajahnya dan
menengadahkan kepalanya. Mata sembabnya terpejam, merasakan angin menyentuh
wajahnya. Dia tersenyum, larut menikmati hembusan angin itu.
Thiya membuka matanya perlahan. Matanya terbelalak
melihat sebentuk wajah yang sangat ia rindukan.
“K..kai oppa?” Kaget Thiya, bahkan ia sedikit mundur
dari posisinya semula.
Tapi apa yang tampak dipenglihatannya itu menghilang
begitu saja.
“Aku berhalusinasi…” ucapnya sambil menunduk.
Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sehelai bulu
sayap yang jatuh di nisan itu, bulu sayap berwarna putih. Thiya mengambil
serpihan itu, mengusapnya dengan lembut, lalu mengedarkan pandangan kesekitar,
mencari sesuatu.
Ia kembali kepada bulu sayap itu.
“Apa kau ada disini, Kai oppa?” Thiya tersenyum.
“Hahaha.. tidak mungkin ya… aku pabo..” lanjutnya.
Thiya akhirnya berdiri dari posisinya setelah
mengecup singkat nisan itu tentunnya. Memberikan sebaris kalimat pamit dan
pergi menjauh dari makam itu.
Sementara itu, Kai memandang nanar yeoja itu menjauh.
Dadanya masih sesak. Seketika tadi terasa waktu berhenti, ketika sepasang iris
hitam kecoklatan yeoja itu menangkap bayangannya. Seketika tadi pula Kai melihat pantulan
dirinya di mata kecil Thiya. Tetapi sedetik kemudian kembali menghilang. Angin
kencang tadi melepaskan sehelai bulu pada sayap kanannya. Seakan memberitahukan
keberadaanya.
~~~~
Thiya baru saja keluar dari kamar mandi ketika Umma
memanggilnya.
“Thiya.. ayo turun.. kemari dan lihat siapa yang
datang..” teriak Umma dari ruang makan. Thiya langsung turun dengan malas.
“Wah.. wahh aegya appa yang cantik ini.. kenapa
murung hmm?” usap seorang namja paruh baya yang terlihat gagah dengan jas
hitamnya.
“Huwaaaa Appaa…!!” Thiya langsung menghambur
kepelukan appa nya itu. Menyalurkan rasa rindunya pada Appanya yang berpisah
karena pekerjaan itu.
“Neomu bogoshipeo, Appa..” Thiya membenamkan wajahnya
di dada appanya.
“Me too baby.. Kau baik-baik saja, eum?” Appa
mengelus surai putrinya itu.
Thiya menunduk, dadanya bergemuruh, mulutnya melawan
ketika ia akan mengatakan baik-baik saja.
“Ah.. ne.. banyak kejadian selama appa pergi… Kau
tabah, sayang.. Anak apa yang cantik ini harus tabah ne?” Appa memeluk Thiya
lebih erat. Umma terisak dalam diamnya. ia merasakan kesedihan yang dialami
putrinya.
“AH… Changmin-ssi..!” Umma menyebut nama seseorang
yang sekarang berdiri dibelakang nampyeonnya.
“Ne.. Anneyong ahjumma-nim…” namja yang dipanggil itu
membungkuk 90 derajat, bersikap sopan.
“Aigoo.. apa kabar kau…?” Umma mendekati Changmin dan
mengacak rambut namja itu. Changmin memang sudah dekat dengan keluarga ini,
posisinya sebagai asisten pribadi Appa menjadikan dia dekat dengan semua
anggota keluarga, tak terkecuali Thiya yang sudah menganggapnya kakak. Appa pun
sangat mempercayainya. Cara kerjanya yang cekatan dan teliti membuat Appa
mempercayakan semua tentang pekerjaanya pada namja ini.
“Baik, ahjumma-nim…” ucapnya tersenyum.
Thiya melepas pelukannya pada sang appa dan berjalan
mendekati Changmin.
“Changmin-oppa…” panggilnya.
“Ne, Thiya-ah.. apa kabarmu?” katanya sambil
tersenyum dan mengacak pelan rambut yeoja yang sudah dianggap seperti
dongsaengnya ini.
Thiya hanya tersenyum.
“Be strong, ne?” ucapnya lagi. Thiya menunduk.
~~~ [skip time]
Sore itu Thiya terlihat sedang duduk di balkon ruang
tengah, duduk di kursi sambil memeluk boneka simpanse pemberian Kai.
Kai pun tampak duduk di tepi balkon, ia duduk
berhadapan dengan Thiya. Ia tersenyum melihat Thiya yang memeluk manja boneka
pemberiannya itu.
“Huah… bahkan wajahmu mirip Kai oppa.. hahhaa”
celetuk Thiya sambil memandangi wajah boneka itu.
“Sialan kau.. menyamakanku dengan simpanse..!” Bibir
Kai mengerucut.
“Ah, tapi bukannya aku yang lebih mirip.. hehehe”
Thiya tampak terhanyut dalam monolognya.
“Ya.. kau simpanseku yang cantik” ucap kai tersenyum.
Flashback: on
“Oppa, berhenti sebentar, aku mau pisang ituu~~” ujar
Thiya manja sambil bergelayut di lengan kanan Kai.
“Hm? Baiklah..” Ujar Kai sambil berjalan menuju kedai
kecil itu dan kembali dengan membawa sebuah pisang.
“Kyaa.. gomawo, Oppa..!” Thiya senang dan segera
memakan pisang itu dengan lahap.
Kai memandang geli melihat yeojachingunya itu, kini
mereka sedang berada di sebuah taman dibawah pohon yang rindang, yang cukup
melindungi mereka dari sinar matahari langsung.
“Dasar kau.. seperti monyet saja.. hahahaha” Kai
terkekeh saat Thiya telah menghabiskan pisang itu. Thiya mengerucutkan bibirnya
imut dan membulatkan matanya yang kecil itu.
“Ya! Oppa..!!” katanya sambil mencubit kecil lengan
Kai.
“Hahaha.. mianhae mianhae….” Kata Kai menghadapi
serangan cubitan Thiya.
“Tapi monyet itu lucu…” celetuk Kai yang membuat
Thiya menghentikan aksi serangannya.
“Humm.. tapi dibanding monyet, aku lebih ingin
menjadi simpanse, dia lebih pintar…” kata Thiya menyandarkan badannya di
sandaran kursi taman.
“Haha.. ne, simpanse-ku yang cantik.” Ujar Kai sambil
memandang Thiya dengan pandangan tulus.
BLUSH!
Wajah Thiya terasa panas. Ia yakin kalau wajahnya
sudah 100% memerah sekarang.
Flashback: off
“Hei, simpanse! Orang yang memberikanmu padaku itu..
Sedang apa ya dia sekarang..” Thiya memulai kembali monolognya itu.
“Aku disini, chagiya, sedang memandangimu” jawab Kai
masih dengan senyum tulusnya.
“Dia jahat sekali padaku… tega.. meninggalkan aku
sendirian disini…” Suara Thiya tertahan. Tangannya lebih erat memeluk bonekanya
itu.
Seketika wajah Kai berubah muram, bibirnya bergetar.
Ia melihat Thiya membenamkan wajahnya di boneka itu, tubuhnya bergetar.
“Padahal.. dia berjanji padaku untuk selalu
menemaniku dan melindungiku.. dia mengingkari janjinya padaku… simpansee…”
suara Thiya bergetar.
Kai melangkah dan meraih tubuh itu.
“Mianhae… chagiya.. mianhae.. jeongmal mianhae…” ucap
Kai pelan.
Lagi-lagi sayap kanan Kai yang kini sudah tumbuh
besar dan berwarna putih cerah itu semkin cerah.
Thiya membuka matanya, dan kembali menemukan serpihan
sayap itu.
“Simpanse.. aku menemukan ini lagi… dari mana ini…”
ucapnya seraya mengambil serpihan itu.
“Tapi.. serpihan ini terlihat lebih besar dan cerah..
indah sekali…” ucapnya tersenyum.
“Kai Oppa… kau benar-benar disini ya?”
“Hahha.. tidak mungkin…” Thiya beranjak dari tempat
duduknya dan merlari kecil menuju kamarnya. Menyimpan sayap itu di sebuah kotak
besar yang sudah berisi beberapa serpihan sayap lainnya.
Sementara itu diluar kamar Thiya seorang namja tengah
berdiri tepat disamping pintu kamar yang tertutup itu. Namja itu tersenyum..
ani, itu lebih mirip seringaian.
Kai yang melihatnya tiba-tiba merasakan aura aneh, ia
merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Semenjak kedatangan namja itu ketika
Appa Thiya kembali dari tugasnya, Kai selalu merasa aura aneh jika namja itu
datang, entah kenapa. Padahal, Kai mengenali betul siapa dia. Asisten pribadi
Appa Thiya, namja baik hati yang sudah dianggap Thiya seperti kakaknya.
Tapi kali ini, Apa yang dirasakan Kai jauh lebih
menakutkan disbanding perasaan aneh yang seringkali hinggap di hatinya tiap
kali namja itu datang. Seperti sebuah ancaman.
Kai menajamkan penglihatannya, dilihatnya asap hitam
disekitar tubuh namja itu, asap hitam yang mengerikan. Kai bergidik melihatnya.
Seringaian itu terlihat semakin mengerikan di mata Kai.
Kai melesat mendekat ke namja itu, ketika tangan
kanan namja itu hendak menyentuh kenop pintu kamar Thiya. Tapi terhenti ketika
seseorang memanggilnya.
“Changmin-ah!” Appa Thiya memanggil dari ruang tamu.
Changmin menghentikan kegiatanya, mengepalkan
tangannya dan mencibir kesal.
“Cih! Pak tua itu!” umpatnya sebelum melangkah
meninggalkan kamar Thiya.
Kai bernafas lega, ia segera masuk ke kamar Thiya dan
mendekati Yeojanya itu. Ia mendapati Thiya sedang bersandar di tepi ranjangnya.
Matanya terpejam, ia melihat sebingkai foto di pangkuan yeoja itu, fotonya,
yang selalu Thiya pandangi tiap hari.
Kai mendekati Thiya, ia mengira Thiya telah terlelap
ketika ia mendekatinya. Tapi tiba-tiba ia merasakan sakit di tubuh bagian kirinya,
ia melihat sayap hitamnya mengembang, dan semakin berwarna hitam pekat, rasanya
sakit bukan main. Dan jantungnya berdetak cepat, merasakan sesuatu yang
mengerikan akan menimpanya, ani.. menimpa yeoja yang dicintainya.
“AArgghh!!” pekik Kai ketika sayap hitam itu kembali
mengembang. Kai melemah, kakinya tak
kuasa menopang tubuhnya lagi. Tiba-tiba ia menghilang.
Thiya membuka matanya perlahan, sekilas tadi ia
merasakan angin berhembus, padahal jendela kamarnya tertutup rapat.
Lalu perhatiannya tertuju pada sebingkai foto di
pangkuannya. Diambilnya benda yang terletak di atas bingkai itu.
“Sayap hitam?” ujarnya heran.
~~~
Thiya baru saja tiba dirumah, ketika ia melihat
seorang namja tengah duduk di ruang tamu tengah serius berkutat didepan laptopnya,
juga dengan kertas-kertas yang berserakan di sekitarnya.
“Changmin oppa?” sapa Thiya.
“Ah.. Thiya-ah kau sudah pulang?” jawab namja itu
menyambut kedatangan Thiya.
“Kenapa kau ada disini?” Tanya Thiya seraya mengambil
tempat duduk di sofa bersebrangan dengan tempat duduk Changmin, membuat mereka
duduk berhadapan.
“Ku diberi tugas oleh Appamu menyelesaikan
berkas-berkas ini..” jawabnya sambil kembali menatap layar laptop.
“Hm.. dimana Appa dan Umma?” Tanya Thiya.
“Mereka berdua sedang mengunjungi keluarga Wu, mereka
baru saja mendapat anggota keluarga baru, katanya..” jelas Changmin.
“Wah? Menantu tuan Wu sudah melahirkan?” Tanya Thiya
antusias.
“Ne, katanya mereka mempunyai aegya namja…” Changmin
berbicara setelah ia menyeruput kopinya.
“Jinjja? Aigoo.. Pasti anak itu tampan seperti
appanya…” ujar Thiya. Changmin terkekeh menyaksikannya.
“Kalau begitu, aku ke kamar dulu, ne?” Kata Thiya
sambil berjalan menuju kamarnya di lantai 2.
“Ne, istirahatlah..” jawab Changmin.
“Istirahatlah.. chagiya.. sebelum semua kenikmatan
ini tak bisa kau rasakan lagi.. khekhekhe..” bisik Changmin dengan
seringaiannya. Ia kembali mengadukan jarinya dengan keypad laptop itu.
~~~
Sementara itu, di kamar Thiya.
“Kai oppa.. apa kabarmu?” ujar Thiya sambil meraih sebingkai
foto di mejanya. Foto yang kerap kali ia peluk dan ia ajak bicara. Seakan sudah
menjadi aktivitas rutin baginya untuk melakukan itu.
“Aku akan mengunjungimu sore ini, ne? Sekarang aku
masih capek.. hahaha” Thiya kembali menyimpan foto itu di meja nakas.
Ia membawa sepasang baju ganti dan beranjak ke kamar
mandi, sebelum sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya dan menahan
kegiatannya.
~~~
Kai kini berada di sebuah ruang dimensi yang
sekelilingnya gelap, ia masih mengerang menahan sakit di bagian punggungnya,
sayap hitam itu seperti menggerogoti tubuhnya. Ia bahkan tak mampu berdiri.
Kini sayap hitamnya makin mengembang, dan makin berwarna hitam pekat. Lebih
besar dibanding sayap putihnya.
“Arrgghhh….!!” Erang Kai berkali-kali, merasakan sakit
yang amat sangat.
Perasaanya tak karuan, tiba-tiba firasat buruk
menyelimuti dirinya, pikirannya tertuju pada seseorang disana. Thiya. Jantung
Kai berdetak cepat.
“A..ada apa ini… kenapa rasa takut ini menyeruak..
mengerikan…” ucapnya diantara rintihannya.
“Kyaaaaaa…!!! Kai Oppaaaaa.. akhhhh!!!!” Sayup
terdengar suara yang familiar di telinga Kai.
Mata Kai terbelalak, perasaanya kalut, Ia ingin
segera berlari dari tempat ini dan menuju ke tempat Thiya. Sungguh. Perasaanya
takut saat ini. Sangat takut. Pikirannya semua tertuju pada Thiya.
Ia mencoba bergerak, tapi rasa sakit itu
melumpuhkannya. Ia terjatuh lagi.
“AAAARRGGHHHHH!!!! Kumohon Bergeraklaaaahhh!!!!”
teriaknya.
“Hiks,, KAI OPPAAAA….!!! KYAAAAAAAAAAAAA” teriakan
itu terdengar lagi.
“AARGGHH!! THIYAAAA!!!” Tiba-tiba sayap putihnya mengembang, lebih besar dan lebih terang.
“AARGGHH!! THIYAAAA!!!” Tiba-tiba sayap putihnya mengembang, lebih besar dan lebih terang.
~~~
GREP!
Tangan kekar itu melingkar indah di pinggang Thiya.
Thiya membelalakan matanya. Ia menengok kebelakang dan mendapati Changmin sedang
memeluknya.
“Op..pa.. a..apa yang k..kau lakukan..??” Thiya
gemetar.
“Diamlah Chagiya… biarkan seperti ini sebentar.”
Changmin mengecup leher Thiya, menghirup aroma tubuhnya.
“AKH! APA YANG KAU LAKUKAAN!!” Thiya berteriak,
mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Changmin. Tapi nihil, tenaganya tak
sekuat tenaga Changmin.
Changmin membalikan tubuh Thiya hingga kini mereka
berhadapan. Ia mulai melumat bibir Thiya kasar. Thiya berontak, tapi tetap tak
bisa melepaskan dirinya.
“Kyaaaaaa…!!! Kai Oppaaaaa.. akhhhh!!!!” Thiya berteriak
sebisanya, tetapi Changmin menggigit bibir bawahnya kasar sehingga mengeluarkan
cairan segar berwarna merah.
Thiya memukul keras dada Changmin, mendorongnya.
Tiba-tiba Changmin menghentikan kegiatanya dan menatap Thiya.
“Kau masih memanggil nama itu hah? DIa sudah mati!
Sekeras apapun kau memanggilnya dia tak akan datang menolongmu!” Ucapnya dengan
seringaian penuh. Thiya bergidik melihat seringaian itu. Takut. Sangat takut.
Tubuhnya gemetar. Tangannya masih mencoba untuk melepaskan diri dari rengkuhan
erat Changmin, pinggangnya mulai merasa sakit karena Changmin terlalu erat
merengkuhnya.
“Jangan lagi sebut nama namja bodoh itu! Cih, dia
terlalu bodoh karena mempercayai ku hahaha” ucap Changmin lagi penuh kebencian.
“A..apa? K..kau…” Thiya tergagap, matanya terbelalak
menyadari sesuatu yang baru diketahuinya.
“Aku yang memanggilnya dengan pesan atas namamu waktu
itu…!!” Jawab Changmin dengan suara pelan, tapi seringaiannya makin lebar
ketika mengatakan itu.
“K..kau… kau yang memanggilnya? Jadi.. Kau juga yang
merencanakan kecelakaan itu?” Pelupuk mata Thiya kembali tergenang air.
“Hahaha.. sudah kubilang dia namja yang bodoh…
hahahaha” Changmin terbahak. Thiya sudah tak bisa membendung air matanya.
Tubuhnya seketika melemas. Tangan yang sedari tadi memberontak kini gemetar
hebat dan tak bertenaga.
“Hiks.. kau.. iblis..!!” Thiya kembali memberontak
dengan sisa tenaganya.
“Kau, tak peka.. Aku muak melihatmu bersama namja
pabo itu. Ia membuatku risih dengan terus berkeliaran disekitarmu!” ujar Changmin
semakin mempererat rengkuhannya.
“Apa yang kau mau!!” Thiya berbicara ditengah
isakannya.
“Aku? Hmm… Aku mau dirimu.. dan harta keluargamu… Kau
tahu, jika aku berhasil mendapatkanmu maka aku aka jadi orang kaya. Dengan
harta berlimpah, dan istri cantik sepertimu, chagiya.” Changmin kembali mencium
kasar Thiya.
“Eeeuuummpphhhh…!!!” Thiya mencoba melepaskannya. Ia
merasakan perih yang teramat sangat di bibirnya. Air matanya mengalir deras. Ia
membelalakan matanya ketika Changmin melepaskan ciumannya dan mengangkat
tubuhnya, lalu melemparkannya di tempat tidur.
“Hiks,, KAI OPPAAAA….!!! KYAAAAAAAAAAAAA”Thiya
berteriak sejadinya. Berharap seseorang mendengar dan menolongnya.
“Berteriaklah sampai suaramu habis..!” Changmin akan
menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Thiya ketika tiba-tiba angin bergulung datang
dan melemparkannya. Thiya memejamkan erat matanya. Rasa takut menguasai
tubuhnya, tangisannya semakin menjadi.
“A..apa?” Changmin heran, tubuhnya terpental menjauh
dari tubuh Thiya. Ia merasa sakit disekujur tubuhnya.
“Cih, ada apa ini? Tak mungkin kau mempunyai kekuatan
seperti ini..!!” Changmin frustasi, dirinya dikuasai nafsu yang tak terkendali.
Ia bangkin dan kembali mendekati Thiya yang meringkuk takut.
BRAKK!!
“THIYA-AH!!” Seseorang mendobrak pintu saat Changmin
hampir memulai kegiatannya itu. Appa dan Umma dibelakangnya.
DUAGH!!
Bogem mentah mendarat mulus di pipi Changmin. Wajah
Appa memerah karena marah. Umma meraih Thiya yang gemetar, menenangkan putrinya
itu.
Changmin kaget dan mengusap pipinya yang membiru itu.
Kemudian Changmin dibuat tak bisa bergerak dan
melawan, bahkan tak diberi kesempatan untuk berbicara.
~~~
Thiya sudah kembali tenang, Umma baru saja keluar
dari kamar Thiya. Thiya menatap kosong langit malam dari balkon kamarnya.
Tiba-tiba matanya tertarik ke kotak berisikan
serpihan sayap itu. Ia meraihnya dan membukanya.
Air mata yang telah mengering kini tergenang lagi
dengan airmata baru.
“Hiks.. Oppa.. Kai oppa… aku takut…” isakkanya lolos
dari bibirnya. Dipeluknya serpihan sayap itu.
Sebuah tangan bergerak pelan menyentuh pucuk kepala
Thiya yang sedang menunduk. Tangan itu mengusap lembut pucuk kepala Thiya.
Thiya mengangkat kepalanya merasakan itu. Dan ia
terkejut mendapati orang yang amat dirindukannya, kini dengan jelas berada
didepannya, tersenyum manis, senyum yang selalu ia rindukan. Thiya lantas
berdiri, tubuhnya kaku.
“K..kai Op..pa…?” Thiya tak percaya dengan apa yang
ia lihat. Kai dengan sepasang sayap berbeda warna, berpakaian serba putih, kini
tepat berada dihadapannya. Thiya kembali gemetar.
“Chagiya.. jangan takut… aku ada disini.” Ucap Kai
sambil membawa Thiya ke pelukan yang hangat.
Thiya masih belum mempercayainya, ia masih mematung.
Sedetik kemudian air matanya mengalir deras, menggambarkan kerinduannya yang
mendalam.
“Hiks.. kai Oppa… Hiks.. Huwaaaaaaaaa” Thiya menangis
kencang seraya mempererat pelukannya pada Kai. Hatinya sangat bahagia. Kai
makin mempererat pelukannya.
“Neomu bogoshipo.. Kai oppa…” ucap Thiya.
“Nado.. Chagiya…” Kai merenggangkan pelukannya.
Menatap lembut Thiya, menghapus air mata Thiya dengan ibu jarinya.
“Oppa… aku.. aku terus merasakan keberadaanmu…” Thiya
berkata tertahan, menahan isakannya.
“Ne, tentu saja.. karena aku selalu berada
disampingmu…” Ucap Kai sambil membelai surai hitam Thiya dengan tangan
kanannya, tangan kirinya makin mempereat pelukannya di pinggang Thiya.
“Mianhae… aku terlambat… aku tak menepati janjiku
untuk melindungimu.” Ujar Kai penuh kelembutan.
Thiya menggelang. Disembunyikannya wajahnya di dada
bidang Kai.
“Kau selalu melindungiku, oppa..” ucap Thiya.
Kai tersenyum, meraih dagu Thiya dengan tangannya. Menatap sepasang iris hitam kecoklatan itu intens. Penuh cinta. Perlahan ia mengeliminasi jarah diantara mereka. Dan terhanyut dalam ciuman yang hangat.
Kai tersenyum, meraih dagu Thiya dengan tangannya. Menatap sepasang iris hitam kecoklatan itu intens. Penuh cinta. Perlahan ia mengeliminasi jarah diantara mereka. Dan terhanyut dalam ciuman yang hangat.
“Saranghae, Thiya.. Simpanse-ku yang cantik..” Ucap
kai tersenyum penuh arti.
“Nado, oppa..” Thiya membalas senyum Kai.
“Eum.. maukah kau berjanji padaku, Chagiya?” Tanya
Kai.
“Apa? Oppa…” Tanya Thiya penasaran, ia membulatkan
matanya yang kecil itu imut, membuat kai terkekeh dan mengacak rambut Thiya.
“Berjanjilah untuk berbahagia. Berbahagialah untuk
bagianku juga…” Ucap kai.
“Kau.. mau kemana..? Oppa?” Ucap Thiya parau.
“Aku harus pergi, Thiya.. aku tidak bisa berada
disini terus…” Jawab Kai.
Tes…
“T..tapi.. Oppa..” Kai menghapus air mata di pipi
Thiya.
“Kau berjanji, ne?” Tanya Kai. “Buatlah aku tenang…”
Kai kembali membawa Thiya ke pelukannya.
“Ne..
aku berjanji, Oppa…” Thiya Terisak di dada Kai. Kai kembali mengangkat dagu
Thiya dan kembali menciumnya lembut.
“Saranghae… jeongmal saranghae.. Thiya”
Cahaya putih berkilauan menyelimuti tibih Kai, Sayap
Hitam Kai lenyap, dan kini kedua sayapnya berwarnya putih, cerah, dan
mengembang. Sedetik kemudian tubuh Kai mulai menghilang, Thiya tak merasakan
lagi rengkuhan ditubuhnya. Ia membuka matanya, dan mendapati setumpukan sayap
putih cerah berkilauan berterbangan dihadapannya.
“Nado jeongmal saranghae, Kai oppa..” Jawab Thiya
masih dengan air matanya. Tapi seulas senyum terukir di wajahnya.
Kai telah benar-benar meninggalkannya, pergi ke
dunianya yang sebenarnya. Tapi keberadaanya tetap bertahan di hati dan ingatan
Thiya.
~~~
Beberapa tahun kemudian…
“Jongin-ah… ayo kita pulang...!” Panggil seorang
yeoja.
“Ne… Ummaa.. chankaman..!!” jawab seorang namja kecil
yang sedari tadi betah berjongkok de samping sebuah makam.
“Umma.. aku sudah memberikan rose kepada Kai
Ajhussi..” ucap anak kecil itu imut sambil menggandeng tangan ummanya.
“Bagus, Jongin-ah.. itu kado yang indah..” Yeoja itu berjongkok
dihadapan putranya.
“Saengil-chukkhahaeyo Kai Ajusshi..” Ucapnya lantang
sebelum meninggalkan area pemakaman itu.
“Thiya Chagiya.. ayo kita pulang..” ucap seorang
namja yang sedari tadi setia menemani ibu dan anak itu mengunjungi makam orang
yang teramat berharga itu.
“Ne, Oppa…” Thiya berdiri dan berjalan mengimbangi
nampyeonya, Jongin dituntunnya.
“Kau bahagia, Thiya?” Tanya namja yang ternyata
nampyeonnya itu.
“Tentu saja, Luhan oppa… gomawo.. kau mengizinkan aku untuk tetap mengingatnya…” Thiya menyenderkan kepalanya di lengan Luhan.
“Tentu saja, Luhan oppa… gomawo.. kau mengizinkan aku untuk tetap mengingatnya…” Thiya menyenderkan kepalanya di lengan Luhan.
“Jangan pernah kau lupakan Kai.. Karena aku pun
takkan pernah melupakannya, dia sahabat yang berharga..” ucap Luha bijak.
“Appa.. Umma.. apa Kai Ajusshi bahagia? Aku ingin
bertemu dengannya.. Apa ia tampan???” Tanya Jongin –anak Thiya dan Luhan-
polos.
“Tentu saja, sayang.. pasti Kai bahagia.. oh.. dan
tentu saja dia sangat tampan.. Appa yakin dia pun sangat ingin bertemu
denganmu, Jongin..” Ucap Luhan sambil benjongkok dan mengelus surai hitam
putranya.
Thiya tersenyum melihat tingkah polah nampyeon dan
aegyanya itu. Ia menatap langit yang cerah. Menghirup udara segar.
‘Oppa.. apa kau lihat..? Aku sekarang sangat
bahagia.. Itu berkat kau, Oppa.. Gomawo.. telah mengisi kehidupanku. Aku
berhutang budi padamu.. Oh iya, kau lihat? Mereka mutiaraku, Luhan dan Jongin..
Aku menamai aegyaku dengan nama kecilmu, oppa.. boleh kan? Hehe.. Mereka juga
sangat menyayangimu oppa… Gomawo.. jeongmal.. Kau juga bahagia kan oppa?’
Thiya mensejajarkan langkahnya dengan Luhan yang
menggandeng tangannya. Luhan menengok sekilas kebelakang, ia menangkap bayangan
seorang namja dengan sayap putih bercahaya yang terkembang dipunggungnya,
tersenyum tulus kepadanya. Sekilas ia mendengar namja itu mengucapkan
terimakasih. Luhan pun balas tersenyum.
“Semoga kau bahagia, Kai..” gumam Luhan pelan.
“Waeyo, oppa?” Thiya mengejutkan Luhan.
“Ah, ani.. hmm… ayo kita makan es krim.. kau mau,
Jongin?” jawab Luhan.
“Ne! Yeeiiii es kriiimm!!” Jongin jingkrak-jingkrak
senang, sedangkan Thiya dan Luhan terkekeh melihat nya.
‘Aku bahagia, Thiya-ah.. sangat bahagia…’ Bisik Kai.
Seketika itu serpihan sayap putih berterbangan.
END
Krik..Krik..Krik.. *tiba-tiba armada jangkrik punah seketika
gimana gimana.? garing? ngga nge feel?
author mesti bertapa lagi di dorm EXO!
hohoho RCL yaa readers yang baiiikk #penjilat



hiyyaaaaaaaaaaaa,jong in gueeeeeeeee. mau ikut mati aja boyeeeee? walaupun suka sama lulu ge tapi tetep cintaku cuma buat kai T_____T
BalasHapusgyaaa jangan matiii nanti yang jadi cast gue siapaaaa hahaha
BalasHapusgood job^_^
BalasHapusKok aku jadi galau gini sihh? Ini smua krna kau, Author-nim! :v
BalasHapusAhahhaha... maapkan akuuuuu
Hapusmakasih sudah bacaaa ehehe